jateng.jpnn.com, SEMARANG - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) mulai memutar otak agar operasional perusahaan pelat merah ini tetap bisa berjalan. Langkah yang dilakukan, yaitu menyulap aset-aset yang selama ini menganggur menjadi ladang pemasukan perusahaan.
Direktur Usaha Angkutan Penumpang Pelni Nuraini Dessy W mengungkapkan langkah ini ditempuh agar perseroan tidak terus bertumpu pada bisnis angkutan laut berbasis Public Service Obligation (PSO).
Dia menyebut Pelni sendiri memiliki total 158 aset di darat. Aset tersebut terdiri atas fasilitas operasional perkantoran dan aset komersial.
“Sekitar 14 persen aset kami masih idle dan berpotensi untuk dikomersialkan. Kami sudah membuka peluang selebar-lebarnya untuk kerja sama bisnis,” ujar Dessy dalam taklimat media di Kantor Pelni Cabang Semarang, Jumat (3/4).
Pada 2026 ini, Pelni menargetkan optimalisasi lima aset utama, masing-masing berada di Belawan, Kota Medan, Sumatra Utara, Kota Padang, Sumatra Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, Balikpapan, Kalimantan Timur dan Ternate, Maluku Utara.
Targetnya, seluruh aset tersebut bisa “gol” atau terealisasi secara komersial tahun ini.
Menurut Dessy, pola kerja sama yang ditempuh bervariasi, mulai dari penyewaan untuk minimarket, kedai kopi berbasis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) hingga perkantoran dan usaha makanan dan minuman (food and beverage).
“Kontribusinya memang belum terlalu besar karena selama ini kami masih bergantung pada PSO. Namun, ini menjadi langkah awal agar ke depan aset bisa lebih optimal dan pendapatan tidak ketergantungan pada PSO,” katanya.






































