jpnn.com - JAKARTA - Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) mengapresiasi keberhasilan diplomasi Pemerintah RI bersama dukungan berbagai negara serta solidaritas komunitas internasional yang turut menekan Israel yang akhirnya membebaskan sukarelawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) termasuk 9 WNI.
“PB Mathla’ul Anwar mengapresiasi langkah cepat dan tegas Pemerintah RI melalui Kementerian Luar Negeri serta berbagai elemen masyarakat sipil, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan komunitas internasional yang terus menyuarakan kecaman keras terhadap tindakan Israel,” kata Ketua Umum PB MA Jazuli Juwaini, Sabtu (23/5).
Dia menambahkan bahwa pembebasan para sukarelawan itu merupakan hasil nyata tekanan diplomatik dan gelombang solidaritas global yang terus menguat terhadap perjuangan kemanusiaan untuk Gaza dan Palestina.
Menurut dia, pembebasan sukarelawan GSF khususnya 9 WNI juga tak lepas dari dukungan Pemerintah Turki atas kerja sama yang baik dengan Kemlu dan diplomat RI. Oleh karena itu, dia memuji dan memberikan apresiasi sekaligus ucapan terima kasih atas hal tersebut.
Meski para sukarelawan akhirnya dibebaskan, PB MA menyesalkan perlakuan tidak manusiawi yang sempat dialami para relawan dan aktivis kemanusiaan, termasuk awak media, selama penahanan oleh pihak Israel.
Menurut dia, berbagai laporan yang terpublikasi menyebutkan adanya tindakan keji seperti tangan diikat, dipaksa sujud di lantai, hingga penyiksaan dan pelecehan.
Dia menilai tindakan itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Oleh karena itu, dia menyatakan persoalan ini tidak boleh berhenti hanya pada pembebasan para sukarelawan. Israel harus tetap menerima konsekuensi hukum dan politik internasional atas tindakan biadab dan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukannya,” kata Jazuli.







































