jpnn.com - Di depan gerai Cap Tikus saya disalami penumpang yang akan satu pesawat menuju Makassar. Kami memang sama-sama mengejar pesawat terpagi dari Manado. Di Makassar saya transit menuju Surabaya. Ia transit menuju Bali.
Sampai basa-basi selesai saya masih belum ingat siapa namanya meski ingat wajahnya. Mungkin karena konsentrasi saya ke Cap Tikus.
Bersama dan Heston Harper De Yong di bandara Sam Ratulangi, Manado.--
Saya memang ingin masuk ke gerai Cap Tikus –sebagai ganti tidak sempat mengunjungi pusat pabriknya di Manado.
Saya terpana melihat gerai minuman keras lokal sebagus itu. Elegan sekali. Berkelas. Tidak menyangka Cap Tikus bisa punya gerai istimewa di bandara Sam Ratulangi. Padahal dulunya Cap Tikus hanya dianggap minuman keras ''kampungan'' –yang penting bisa cepat mencapai tujuan: mabuk.
Gerai besar itu kelihatannya dibangun sebagai tanda Cap Tikus memasuki era baru: IPO di pasar modal. Bukan hanya kualitasnya yang jadi sejajar dengan produk internasional, juga pengelolaan perusahaannya: Cap Tikus masuk bursa tahun 2023.
"Saya De Yong," ujar orang yang menyalami saya itu.
Berarti sudah lama saya tidak bertemu De Yong. Ia orang Toraja yang tinggal di Bali. Ia seorang pengacara yang juga aktif di dunia usaha.

.jpeg)















































