jpnn.com, JAKARTA - Makan di restoran All You Can Eat (AYCE) kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban seperti di Jakarta.
Tidak hanya soal porsi, namun pengalaman bersantap yang nyaman, kualitas bahan yang segar, serta jaminan keamanan pangan menjadi pertimbangan utama sebelum memilih meja.
Namun, di tengah kemudahan akses informasi, tantangan baru muncul bagi para pencinta kuliner: bagaimana membedakan antara ulasan jujur dan informasi sesat?.
Belakangan ini, industri F&B di Indonesia kembali diingatkan soal pentingnya literasi digital. Kasus menarik muncul saat salah satu pionir restoran shabu-shabu autentik Jepang, Mo-Mo-Paradise, mendadak menjadi perbincangan karena isu 'kode rahasia' terkait bahan tertentu.
Namun, bagi pengamat media sosial, fenomena tersebut justru menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah narasi hoaks diproduksi secara sistematis.
Bila diperhatikan secara jeli, informasi yang beredar tersebut memiliki pola yang tidak wajar. Berbeda dengan keluhan pelanggan pada umumnya yang biasanya datang dari akun aktif dengan rekam jejak digital yang jelas, narasi ini justru muncul secara serentak dari deretan akun yang terindikasi palsu.
Fenomena itu mengindikasikan adanya upaya terkoordinasi dari pihak-pihak tertentu. Menanggapi hal ini, manajemen Mo-Mo-Paradise tampak memilih langkah yang cukup tenang namun taktis.
Hingga kini, pihak manajemen mengaku belum ada komunikasi atau motif yang jelas dari pihak di balik akun-akun tersebut. Alih-alih larut dalam drama di media sosial, Mo-Mo-Paradise memilih jalur investigasi siber profesional untuk mendalami motif dan mengamankan integritas digital.








































