jatim.jpnn.com, SURABAYA - Momentum Ramadan dimaknai berbeda oleh mahasiswa Program Studi Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra. Mereka tidak sekadar belajar teori di kelas, tetapi menjalani simulasi menjadi penyandang disabilitas sebagai bagian dari riset desain berbasis empati.
Kegiatan dalam mata kuliah Future Design itu menjadi bagian dari proses design research kolaborasi dengan Xi’an Jiaotong Liverpool University.
Selama satu setengah jam, mahasiswa menutup mata dan telinga, menggunakan kruk, tongkat, hingga kursi roda untuk merasakan langsung keterbatasan fisik saat beraktivitas di lingkungan kampus.
Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mengumpulkan data dan insight untuk merumuskan solusi desain yang lebih inklusif.
Ketua Program Studi VCD UC, Christian Anggrianto, menegaskan empati menjadi fondasi utama dalam future thinking.
“Ramadan mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap sesama. Dalam Future Design, mahasiswa belajar bahwa solusi masa depan harus berangkat dari pemahaman mendalam terhadap pengalaman manusia. Dengan merasakan langsung keterbatasan fisik, mereka memperoleh insight autentik untuk merancang desain yang inklusif dan berdampak,” ujar Christian, Kamis (5/3).
Dari simulasi itu, mahasiswa menemukan berbagai tantangan. Mulai dari kesulitan navigasi ruang, keterbatasan akses informasi visual dan audio, hingga hambatan mobilitas di area publik.
Hasil observasi tersebut akan dikembangkan menjadi rekomendasi desain komunikasi visual, sistem informasi, hingga konsep ruang yang lebih ramah difabel.








































