jpnn.com, JAKARTA - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan pentingnya percepatan riset nasional berbasis pendekatan top-down, guna memastikan riset memberikan dampak nyata bagi pembangunan dan perekonomian nasional.
Hal ini selaras dengan arahan Presiden RI, untuk menempatkan riset sebagai instrumen strategis.
Dalam Rapat Dewan Penyantun Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) hari ini, Arif menjelaskan Presiden RI menempatkan riset sebagai instrumen strategis untuk mendukung prioritas nasional di bidang pangan, kesehatan, energi, lingkungan, serta industri strategis, termasuk nuklir dan dirgantara.
“Presiden menekankan agar riset tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi harus berdampak langsung pada ekonomi. Karena itu, percepatan hilirisasi menjadi keniscayaan,” ujarnya, Selasa (13/1).
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ia menyebut, BRIN menerapkan kebijakan riset top-down, terutama untuk riset yang berasal dari kebutuhan kementerian/lembaga dan proyek strategis nasional yang tidak dapat dikompetisikan.
Pendekatan ini difokuskan pada riset terapan dengan tingkat kesiapterapan teknologi (TRL) tinggi serta target penyelesaian yang lebih cepat.
“Dengan dukungan pendanaan LPDP, riset yang sebelumnya dua hingga tiga tahun kami dorong bisa diselesaikan lebih singkat, sehingga hasilnya segera dirasakan,” katanya.
Selain riset terapan, Arif melanjutkan, BRIN juga mengembangkan riset berbasis future technology forecast guna memastikan industrialisasi nasional ke depan tetap relevan dengan perkembangan teknologi global.














































