Jakarta Darurat Banjir: Setengah Kiamat dan Alarm Nasional

4 hours ago 32

Oleh: Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid - Peneliti Utama BRIN / BRIDA Jawa Timur

 Setengah Kiamat dan Alarm Nasional

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Peneliti Utama BRIN / BRIDA Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Banjir besar yang berulang di Jakarta hari ini bukan lagi sekadar bencana alam.

Ia adalah akumulasi panjang dari krisis lingkungan, kegagalan tata ruang, dan lemahnya penegakan hukum.

Ketika hujan ekstrem akibat perubahan iklim bertemu dengan laut pasang, daratan yang terus turun serta ruang resapan yang hilang, ibu kota seolah memasuki fase “setengah kiamat”: lumpuh, gelap, dan kehilangan daya pulih.

Wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, hingga Jakarta Selatan berulang kali terendam.

Banjir rob dari laut, luapan sungai dari hulu, dan drainase yang tak lagi memadai menunjukkan satu kenyataan pahit: Jakarta sudah terlalu lama dibangun dengan mengorbankan keseimbangan alam.

Beton menggantikan rawa, bangunan berdiri di sempadan sungai, dan aturan tata ruang kerap kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Pemanasan global memang memperparah curah hujan ekstrem dan menaikkan muka air laut.

Namun bencana ini menjadi parah karena faktor daratan: eksploitasi air tanah yang masif menyebabkan penurunan muka tanah hingga sentimeter per tahun, hilangnya kawasan resapan, serta pelanggaran RTRW/RTRWK yang dibiarkan atau bahkan dilegalkan.

Banjir besar yang berulang di Jakarta hari ini bukan lagi sekadar bencana alam melainkan akumulasi panjang dari krisis lingkungan, kegagalan tata ruang.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |