jpnn.com - Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus yang telah menyedot perhatian publik—yang diduga dilakukan oleh oknum di lingkungan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI—dan terungkap dalam hasil berita acara pemeriksaan karena faktor sakit hati, telah dilimpahkan oleh oditur militer ke Pengadilan Militer Jakarta.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam sistem negara hukum, setiap dugaan pelanggaran tetap harus diproses sesuai yurisdiksi yang berlaku, sekaligus membuka ruang refleksi terhadap peran strategis intelijen dalam menjaga stabilitas negara.
Bahwa benar, ibarat anatomi tubuh, intelijen itu jantung, bukan otot. Ia tidak tampak dalam parade militer, tidak dielu-elukan dalam seremoni publik, tetapi ketika ia berhenti berdetak, negara akan langsung mengalami kelumpuhan. Perannya senyap, namun menentukan hidup-matinya stabilitas nasional.
Sun Tzu menempatkan bab intelijen di bagian paling akhir dalam The Art of War—bukan karena tidak penting, melainkan karena ia adalah penutup sekaligus penentu kemenangan. Ia menegaskan: “Yang disebut pencerahan dari awal bukanlah dari dewa, bukan dari roh, tetapi dari manusia yang mengetahui keadaan musuh.” Ini menunjukkan bahwa keunggulan informasi adalah fondasi utama dalam setiap strategi negara.
Kenapa intelijen = jantung keamanan:
1. Pompa informasi sebelum darah tertumpah
Intelijen bekerja sebelum konflik terbuka terjadi. Soekarno mampu merebut Irian Barat tanpa perang besar karena Badan Pusat Intelijen (BPI) saat itu telah memetakan kekuatan Belanda, membangun lobi ke Amerika Serikat, serta membaca celah di PBB. Di era kini, langkah “dua kaki” dalam geopolitik hanya mungkin dilakukan karena adanya peta strategis dari BIN, BAIS, dan BSSN—yang menghitung secara presisi batas kedekatan dengan China tanpa memicu reaksi keras Amerika Serikat, dan sebaliknya.
2. Deteksi serangan yang tidak menggunakan peluru
Ancaman modern tidak selalu berbentuk fisik. Perang pikiran terhadap generasi muda—melalui media sosial, LSM, hingga infiltrasi narasi dalam kurikulum—lebih dulu terdeteksi oleh intelijen. Mereka membaca anomali pendanaan, pola disinformasi, hingga orkestrasi opini publik. Jika intelijen terlambat, masyarakat baru menyadari ancaman setelah satu dekade, ketika polarisasi sudah mengakar dan negara terbelah secara sosial.
3. Menjaga pemimpin tetap rasional dalam mengambil keputusan
Soepomo dan Soekarno mampu mengambil keputusan besar karena memperoleh briefing intelijen yang jujur dan komprehensif. Tanpa itu, pemimpin hanya akan bergantung pada media massa dan arus informasi digital yang rentan dimanipulasi. Dalam konteks ini, intelijen berfungsi sebagai “jantung” yang memompa darah realitas ke pusat kekuasaan, memastikan keputusan diambil berdasarkan fakta, bukan ilusi.



































