jpnn.com, JAKARTA - Perusahaan telekomunikasi, Indosat meluncurkan registrasi berbasis biometrik guna keamanan pelanggan lebih kokoh.
Di era transformasi digital, kartu SIM menjadi identitas tunggal penghubung berbagai layanan dari keuangan, e-commerce, kesehatan, hingga akses publik.
Akan tetapi, pelaku kejahatan memanfaatkannya untuk praktik penipuan (scam).
Kehadiran produk barunya itu menambah kekuatan Indosat yang sebelumnya sudah mengembangkan teknologi anti-spam dan anti-scam, sebagai pelopor sistem keamanan digital.
Reski Damayanti, Chief Legal and Regulatory Officer Indosat mengungkapkan verifikasi identitas yang hanya mengandalkan data statis, seperti NIK dan nomor Kartu Keluarga, memiliki keterbatasan di lapangan.
"Metode verifikasi konvensional harus bertransformasi. Sebab, masyarakat perlu validasi kuat guna memastikan pemilik identitas, adalah benar yang bersangkutan,” tegasnya.
Di mata Reski yang juga Ketua Global Anti-Scam Alliance (GASA) Chapter Indonesia, biometrik bukan solusi instan, namun jadi pondasi pengamanan.
Dengan memperketat proses autentikasi di hulu, Indosat secara sistematis mempersulit para pelaku kejahatan menyusup ke ekosistem perusahaan dan menjerat pelanggan. Di matanya, kebijakan ini merupakan instrumen penting untuk meminimalisasi celah penyalahgunaan data.












































