jpnn.com, JAKARTA - Ketum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir menyampaikan tausiah syawalan dalam rangkaian acara Silaturahmi Idulfitri 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, (31/3) di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Haedar menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin serta mengakui masih adanya kekurangan dalam pengabdian selama memimpin Muhammadiyah. “Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pengabdian yang kami lakukan,” ujarnya.
Dia juga mengapresiasi seluruh elemen Muhammadiyah atas kontribusinya dalam mendorong perkembangan organisasi dan kepercayaan masyarakat.
“Terima kasih atas segala pengabdian, sehingga Muhammadiyah mampu berkembang dan memperoleh kepercayaan masyarakat,” tuturnya.
Haedar menyampaikan duka mendalam atas gugurnya anggota pasukan perdamaian PBB di Lebanon, Farizal Rhomadhon, kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, Yogyakarta. “Kami menyampaikan duka yang mendalam,” ujar Haedar.
Dia juga mengecam segala bentuk kekerasan dan penindasan yang dilakukan Zionis Israel. “Kami mengutuk segala bentuk kekerasan dan penindasan,” tegasnya.
Haedar menilai dunia saat ini menunjukkan dua realitas besar, yakni kegagalan peradaban modern dan kondisi global yang bersifat katastrofik. Ia menyebut berbagai bentuk kekerasan, genosida, hingga lemahnya hukum internasional menjadi bukti belum tercapainya cita-cita peradaban.
“Ini menunjukkan bahwa cita-cita besar peradaban modern belum sepenuhnya tercapai,” ujarnya.








































