jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memperkirakan ekonomi Indonesia 2025 tumbuh di kisaran 5,00-5,05 persen.
Menurut dia, hal ini bisa dicapai meski sejumlah indikator menunjukkan pemulihan daya beli masyarakat masih berjalan lambat.
Proyeksi tersebut mencerminkan keseimbangan antara ketahanan ekonomi domestik dan berbagai tekanan struktural yang masih membayangi.
"Daya beli yang belum membaik, belanja pemerintah yang di bawah target serta banjir Sumatera menjadi faktor utama. Liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 yang lebih sepi dari tahun 2024 mengindikasikan masih lemahnya daya beli masyarakat," kata Wijayanto dikutip Rabu (7/1).
Dari sisi dunia usaha, dirinya mencatat pertumbuhan kredit yang masih terbatas.
Ini tercermin dari kredit modal kerja hanya tumbuh sekitar dua persen secara tahunan (yoy), sementara kredit konsumsi berada di kisaran tujuh persen yoy.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa pada kuartal IV 2025, pelaku usaha belum melakukan ekspansi signifikan dan masyarakat masih menahan konsumsi untuk mengantisipasi ketidakpastian pendapatan ke depan.
Indikator lain yang turut diamati adalah belanja data telekomunikasi.
























.jpeg)





















