jpnn.com, JAKARTA - Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (Popsi) menilai peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebaiknya difokuskan pada fungsi pencatatan, dokumentasi, monitoring, transparansi data ekspor, serta pengawasan administratif.
Hal ini dinilai penting dilakukan guna menghindari terjadinya distorsi pasar yang merugikan pelaku sektor ini.
Popsi menilai pemerintah sebaiknya berfokus pada penguatan transparansi dan tata kelola kelapa sawit tanpa merusak mekanisme pasar yang ada.
"Dibatalkan akan lebih baik demi menyelamatkan jutaan petani sawit di Daerah," sebagaimana bunyi keterangan tertulis Popsi, dikutip pada Minggu (24/5).
Sementara itu, untuk mekanisme perdagangan dan pembentukan harga, Popsi mendesak agar prosesnya tetap diserahkan kepada pasar yang kompetitif dan terbuka.
Popsi memperingatkan apabila negara melakukan intervensi terlalu mendalam pada aspek perdagangan dan penentuan harga, maka risiko distorsi pasar, kepanikan pelaku usaha, dan tekanan harga sawit domestik akan semakin besar.
"Dan petani kembali menjadi pihak yang paling dirugikan," imbuhnya.
Lebih lanjut, Popsi melihat kebijakan ini berpotensi memunculkan kehadiran pihak-pihak pencari rente baru yang akan diuntungkan dari situasi tidak kondusif tersebut.







































