jpnn.com - BEIJING - Pemerintah China keberatan atas rencana Amerika Serikat memperoleh 30 juta hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan bahwa Venezuela adalah negara berdaulat dan memiliki kedaulatan penuh serta permanen atas seluruh sumber daya alam dan kegiatan ekonominya.
“Permintaan Amerika Serikat melanggar hukum internasional, melanggar kedaulatan Venezuela, dan merusak hak-hak rakyat Venezuela,” kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (7/1).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
Trump mengatakan minyak itu akan dijual pada harga pasar, dan hasilnya "akan dikontrol oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat" untuk memastikan penggunaan yang bermanfaat bagi rakyat Venezuela dan AS.
Padahal, berdasarkan data dari perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela s.a. (PDVSA), negara tersebut mengekspor 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS yang dimulai pada Desember 2025.
Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke Tiongkok, memberikan Beijing pangsa 81,7 persen dari ekspor minyak Venezuela.
Produksi minyak harian Venezuela pada 2025 diketahui sekitar 1,1 juta barel per hari atau jauh berkurang dari produksi tahun 1970-an yang mencapai 3,5 juta barel minyak per hari akibat masalah tata kelola, kurangnya investasi infrastruktur, dan dampak sanksi.















.jpeg)































