ArtSubs Rambat

1 hour ago 17

Oleh: Dahlan Iskan

ArtSubs Rambat

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

jpnn.com - Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.

Nama pamerannya: ArtSubs. Seluruh kompleks Alon-Alon Surabaya diubah jadi galeri. Gedung-gedungnya, halamannya, dan teras-terasnya. Termasuk ruang bawah tanahnya. Semua diberi AC, termasuk yang di halaman. Memang halaman Alon-Alon pun dipasangi tenda tertutup kokoh; yang tidak bisa dibedakan dengan ruangan lainnya.

ArtSubs Rambat

Inilah pameran yang untuk mempersiapkan fisiknya saja perlu 250 orang yang bekerja siang malam selama satu bulan penuh. Sudah begitu sering ada acara publik di Alon-Alon Surabaya. Tapi baru di ArtSubs ini lokasi peninggalan Belanda itu dipermak jadi pameran seni terbesar sepanjang pengetahuan saya.

Alon-Alon Surabaya berada di pusatnya pusat kota. Di Jalan Pemuda –terusan Jalan Tunjungan. Satu deret dengan Gedung Grahadi, bangunan yang dulu untuk pejabat tertinggi Belanda di Jawa Timur. Kini Grahadi jadi "istana" gubernur Jatim.

Alon-Alon Surabaya dulunya disebut Balai Pemuda. Dulunya lagi, di zaman Belanda, kompleks ini disebut De Simpangsche Societeit. Dibangun tahun 1907. Orang asli Surabaya menyebutnya Rumah Bola: ada permainan biliar di dalamnya. Di zaman itu hampir semua kota punya Rumah Bola –tempat orang Belanda dan Eropa mencari hiburan: dansa, bermusik, teater, dan main biliar. Disebut Simpang Club karena untuk masuk ke De Simpangsche Societeit harus menjadi anggotanya: pribumi dan anjing dilarang masuk.

Di Jakarta Rumah Bola itu disebut Gedung Harmoni –yang kini, dari luar, tampak hilang keanggunannya dan seperti tidak terawat.

Di Surabaya, Pemkot Surabaya memugarnya dengan sangat sukses: dua gedungnya dikembalikan ke bentuk dan arsitektur aslinya. Halaman luas di antara dua gedung itu dijadikan plaza terbuka yang tertata. Lalu ditambah ruang bawah tanah –termasuk untuk parkir. Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini berjuang untuk mendapatkan tanah pojok milik Pemda di seberang jalannya –tapi sudah telanjur jatuh ke swasta. Risma kalah di pengadilan.

Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |