jatim.jpnn.com, SURABAYA - Wakil Wali Kota Surabaya mengaku khilaf dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas penyebutan pihak yang mengusir nenek Elina Widjajanti mengenakan atribut organisasi Madura Asli Sedarah (Madas).
Permintaan maaf itu disampaikan Armuji dalam forum mediasi dan dialog terbuka bersama Ketua Umum DPP Madas Mohammad Taufik di Universitas Dr Soetomo (Unitomo), Selasa (6/1)
“Namun, saya akui mungkin ada satu kekhilafan dalam ucapan saya. Saat itu muncul anggapan bahwa ada logo Madas di pakaian seseorang bernama Yasin. Itu saya sampaikan berdasarkan dialog yang berkembang,” ucap Armuji.
Belakangan, logo yang dimaksud bukanlah atribut Madas, melainkan milik kelompok lain. Atas hal tersebut, Armuji secara terbuka menyampaikan permohonan maaf.
“Saya mohon maaf atas kekhilafan saya menyebut logo Madas. Tidak ada niat sedikit pun untuk mendiskreditkan Madas atau siapa pun. Hati kecil saya tidak ke arah sana,” ucapnya.
Armuji menjelaskan sidak tersebut dilakukan karena banyak laporan warga dan viral di media, salah satunya melalui pemberitaan televisi lokal, sebelum dirinya turun langsung ke lapangan.
“Yang memviralkan bukan saya, telepon saya terus berdering, laporan masuk bertubi-tubi maka saat datang ke lokasi. Saya minta korban, keluarga, serta RT dan RW dihadirkan agar persoalan jelas,” jelasnya
Dia mengakui sempat menyebut nama Madas dalam dialog yang ditayangkan di YouTube dan akun medsos pribadinya. Penyebutan itu, menurut Armuji, murni spontan dan keliru.












































