jpnn.com, JAKARTA - Isu perdamaian dan harmoni antariman kembali mendapat sorotan dalam penyelenggaraan 1st Indonesia Youth Empowerment Peace Class (YEPC) yang digelar di Universitas Mohammad Husni Thamrin (UMHT), Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, tokoh masyarakat serta para pemerhati perdamaian dari berbagai latar belakang agama dan organisasi kepemudaan.
Forum bertema “Interfaith Harmony Begins with Character” tersebut menghadirkan Presidium Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Ferdinandus Wali Ate sebagai keynote speaker.
Ferdinandus ðalam pemaparannya, menegaskan harmoni antarumat beragama tidak lahir dari keseragaman keyakinan, melainkan dari karakter manusia yang matang dalam mengelola perbedaan.
“Indonesia tidak kekurangan keberagaman, tetapi sering kekurangan karakter. Ketika karakter kuat, perbedaan tidak menjadi ancaman, melainkan kekayaan yang memperkaya kehidupan bersama,” tegas Ferdinandus di hadapan peserta.
Dia menilai konflik berbasis identitas agama yang masih terjadi di berbagai daerah bukanlah kegagalan iman, melainkan kegagalan karakter—khususnya dalam hal empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, pendidikan perdamaian harus berangkat dari pembentukan manusia, bukan sekadar wacana normatif.
Dalam konteks tersebut, Ferdinandus juga mengaitkan isu harmoni antariman dengan keadilan sosial dan ekologis, merujuk pada ajaran sosial Gereja Katolik melalui ensiklik Rerum Novarum karya Paus Leo XIII.












































