jateng.jpnn.com, SEMARANG - Saluran air di Jalan Gajah Raya, Kota Semarang, Jawa Tengah mulai ramai jadi tempat pendirian lapak pedagang kaki lima (PKL). Padahal, lapak-lapak tersebut sebelumnya telah dibongkar sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial Instagram, tampak struktur bangunan menyerupai kios mulai dipasang di atas saluran air. Lokasi pembangunan berada di depan gerai Alfamidi dan di belakang Asrama Polisi (Aspol) Kabluk.
Sebelumnya, pembongkaran lapak PKL di kawasan tersebut dilakukan karena bangunan di atas saluran air dinilai menghambat aliran air dan menyulitkan proses pembersihan. Kondisi itu disebut menjadi salah satu faktor penyebab genangan dan banjir.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan bahwa keberadaan PKL akan dievaluasi secara berkala dan tidak bersifat permanen.
“Kami akan evaluasi keberadaan PKL setiap tahun. Akan kami revisi, termasuk ketentuan jam operasional,” ujar Agustina, Rabu (7/1).
Menurut Agustina, PKL seharusnya bersifat sementara. Namun, dalam praktiknya, sebagian PKL mulai membangun lapak yang cenderung permanen.
Pihaknya akan merevisi beberapa ketentuan agar penertiban oleh Satpol PP memiliki dasar hukum yang jelas. Misalnya lapak PKL berdiri berdasarkan ketentuan jam.
“Ini akan kami detailkan supaya PKL juga tahu kewajibannya. Tidak boleh ada jual beli lapak. Kalau ada yang meminta penjualan, PKL bisa menyampaikan bahwa itu tidak diperbolehkan,” katanya.












































