jpnn.com - "Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka." – Soekarno
Delapan puluh satu tahun sudah Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) berdiri sebagai monumen hidup dari kedaulatan rakyat Indonesia.
Lahir dari rahim revolusi, MPR telah melalui pasang surut sejarah dari era Orde Lama yang penuh gejolak ideologi, Orde Baru yang sentralistis, hingga Reformasi yang mendobrak kemutlakan kekuasaan.
Di usia ke-81 ini, kita tidak hanya merayakan bertahannya sebuah institusi, melainkan mengagungkan keberhasilan bangsa ini merawat konstitusinya di tengah hantaman krisis multidimensi.
Perjalanan 81 Tahun: Dari Lembaga Tertinggi Hingga Penjaga Keseimbangan
Sejarah MPR adalah sejarah jatuh bangunnya Republik ini. Sebagai monumen hidup dari kedaulatan rakyat, MPR telah melewati kawah candradimuka di setiap etape zaman, memainkan peran sentral yang berbeda-beda sesuai dengan panggilan sejarahnya.
Rekam jejak MPR selama 81 tahun adalah epos tentang bagaimana sebuah lembaga negara bermutasi, beradaptasi, dan berkorban demi merawat keutuhan bangsa.
Pada awal berdirinya Republik hingga era Orde Lama, cikal bakal MPR yang berwujud dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), bertugas sebagai benteng penjaga revolusi.









































