jpnn.com - ISTANBUL - Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan sekitar 125 ribu orang terpaksa mengungsi akibat pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi di Yaman sejak awal September 2026 ini. OCHA menyatakan sedikitnya 18.000 keluarga, atau sekitar 125.000 orang, telah mengungsi dari rumah mereka di Yaman sejak awal September.
“Permusuhan di Yaman memaksa masyarakat meninggalkan rumah mereka, menyebabkan jatuhnya korban sipil, dan memberi tekanan tambahan terhadap operasi kemanusiaan yang sudah kewalahan,” kata OCHA dalam pernyataan yang dirilis pada Senin malam waktu setempat.
Mengutip Kantor Hak Asasi Manusia PBB, OCHA menyebut 40 warga sipil tewas dalam eskalasi konflik tersebut, termasuk delapan orang yang meninggal dunia dan 32 lainnya terluka pada 1–14 September.
Menurut OCHA, perempuan dan anak-anak menyumbang setengah dari jumlah korban tewas dan lebih dari separuh korban luka.
OCHA menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik untuk melindungi warga sipil, menghormati hukum humaniter internasional, serta memfasilitasi akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan guna memastikan bantuan darurat dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Dalam beberapa hari terakhir, kelompok Houthi memperluas kendali mereka atas garis pantai Laut Merah Yaman, termasuk Pulau Mayyun di Selat Bab el-Mandeb, di tengah meningkatnya pertempuran dengan pasukan pemerintah.
Yaman telah dilanda perang sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014.
Kondisi tersebut mendorong koalisi Arab pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. (antara/jpnn)
















































