jpnn.com - Teror dan intimidasi yang menimpa dua konten kreator dengan latar afiliasi politik berbeda—Dj Donny yang dikaitkan dengan PDI Perjuangan dan Sherly yang kerap dilabeli sebagai “anak abah”—patut dikecam tanpa syarat.
Ancaman, baik fisik maupun psikologis adalah tindakan tercela yang merusak rasa aman, kebebasan berekspresi, dan sendi dasar demokrasi.
Namun, persoalan tidak berhenti pada kecaman. Yang juga mengkhawatirkan adalah cara ruang publik merespons peristiwa ini.
Alih-alih menunggu fakta dan proses hukum, publik justru larut dalam emosi, saling tuding, dan narasi politik yang berhadap-hadapan.
Teror ini dengan cepat ditarik ke polarisasi lama antara kelompok yang dianggap pro-pemerintah dan yang oposisi dan menganggap pemerintah selalu salah.
Di sinilah kewarasan publik diuji.
Tidak semua peristiwa harus dibaca secara hitam-putih. Penyederhanaan berlebihan justru membuka ruang manipulasi.
Pertanyaan rasionalnya sederhana: siapa yang diuntungkan? Teror jelas tidak menguntungkan korban.














































