Revolusi, Kelembagaan, dan Jalan Indonesia Hari Ini

1 day ago 25

Revolusi, Kelembagaan, dan Jalan Indonesia Hari Ini

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti. Foto: Source for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Oleh : Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti

Sejarah selalu menyediakan cermin, tetapi tidak pernah memberi jawaban siap pakai. Dia hanya menunjukkan pola.

Salah satu pola yang paling relevan untuk membaca Indonesia hari ini adalah bagaimana sebuah perubahan besar gagal atau berhasil tergantung pada apa yang dilakukan negara setelah guncangan politik terjadi.

Di titik inilah perbandingan antara Arab Spring dan revolusi-revolusi di Eropa menjadi penting—bukan sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai pelajaran kebijakan yang sangat aktual.

Arab Spring sering dipahami sebagai ledakan kemarahan rakyat terhadap otoritarianisme padahal, akar terdalamnya justru soal ekonomi dan martabat hidup.

Tindakan tragis Mohamed Bouazizi pada Desember 2010 bukan semata protes politik, melainkan jeritan seorang warga kecil yang terhimpit birokrasi, kemiskinan, dan negara yang tidak hadir.

Runtuhnya rezim Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia, disusul tumbangnya Hosni Mubarak di Mesir, memunculkan harapan besar akan perubahan.

Namun harapan itu banyak yang kandas. Di sejumlah negara Arab Spring, pergantian rezim tidak diikuti penataan ulang kelembagaan yang menjawab tuntutan paling mendasar masyarakat: pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, kepastian usaha, dan rasa adil dalam berhadapan dengan negara.

Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti menyebut rakyat kecil menjadi kelompok rentan dari perdoalan maladministrasi tanah di Indonesia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |