jpnn.com, JAKARTA - Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023 – 2024 memotret bahwa teh merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih.
Tidak heran jika setiap 21 Mei, peringatan Hari Teh Internasional turut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang teh, mulai dari perkebunan hingga akhirnya hadir dalam keseharian masyarakat di Indonesia.
Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, Devyana Tarigan mengatakan tidak semua teh diproses melalui cara pengolahan yang sama.
Di dalam dunia teh, kualitas tidak hanya ditentukan saat proses pengolahan berlangsung, tetapi sudah dibentuk sejak daun teh muda masih berada di perkebunan.
“Mulai dari kondisi alam, kegiatan pemeliharaan tanaman, cara pemetikan, hingga penanganan setelah panen menjadi faktor penting yang menentukan karakter akhir teh yang dihasilkan,” kata Devy dalam keterangannya, Rabu (20/5).
Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan.
Devy menjelaskan perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat dan menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi.
“Karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” jelas dia.








































