jpnn.com, JAKARTA - Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dengan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya energi domestik yang melimpah.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Hal itu disampaikan pakar transisi energi Retno Gumilang Dewi, dalam diskusi bertema “Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional Melalui Transformasi Strategis Pertamina” di Jakarta, Selasa (19/5).
Menurut Retno, kunci utama ketahanan energi nasional adalah kemampuan Indonesia memanfaatkan kekayaan energi yang dimiliki sendiri sehingga tidak mudah terdampak gejolak internasional.
“Aspek yang akan menjadikan pasokan energi kita stabil adalah memanfaatkan kekayaan milik kita sendiri. Dengan kita bisa memanfaatkannya, kita tidak akan terdampak dengan yang namanya krisis geopolitik seperti sekarang,” kata Retno.
Dia menjelaskan bahwa isu energi saat ini tidak lagi sekadar berkaitan dengan pasokan, tetapi juga erat kaitannya dengan dinamika geopolitik. Karena itu, setiap negara berlomba mengamankan kebutuhan energinya masing-masing.
Retno menegaskan Indonesia harus memperkuat kemandirian energi dengan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Harus Dimulai Secara Bertahap
Dalam paparannya, Retno memaparkan peta jalan transisi energi Indonesia periode 2025–2060. Tahap pertama pada 2025–2030 difokuskan pada stabilisasi dan penguatan ketahanan energi nasional melalui diversifikasi energi, termasuk pemanfaatan gas domestik, co-firing biomassa di PLTU, implementasi biodiesel B40 menuju B50, pengembangan bioetanol, dan percepatan energi baru terbarukan.







.jpeg)
































