jpnn.com - JAKARTA - Puasa gelar Persija Jakarta makin panjang seusai gagal merebut trofi Super League 2025/2026.
Macan Kemayoran -julukan Persija, hanya finis di posisi ketiga klasemen, sekaligus mempertegas krisis lini depan yang dinilai jadi penyebab utama kegagalan mereka musim ini.
Manajer Persija Ardhi Tjahjoko mengakui timnya kehilangan sosok predator haus gol seperti Marko Simic yang pernah membawa Persija berjaya pada musim 2018.
Menurut Ardhi, kualitas permainan Persija sebenarnya tidak buruk. Aliran bola ke area pertahanan lawan sudah berjalan baik, tetapi penyelesaian akhir menjadi masalah besar yang terus menghantui sepanjang musim.
"Kami tidak punya goal getter seperti zaman dahulu ada Marko Simic. Di sini kami tidak punya goal getter. Jadi, bola itu sudah sampai depan untuk mencetak golnya susah," ujar Ardhi.
Kegagalan menemukan striker tajam dianggap membuat Persija kehilangan banyak poin penting dalam persaingan perebutan gelar. Padahal, dari segi materi pemain dan jumlah kemenangan, Ardhi menilai skuad musim ini justru lebih kuat dibanding tim juara 2018.
"Saya rasa ini lebih baik dari 2018. Alasannya karena materi pemain dan kami juga banyak menang di pertandingan," katanya.
Meski demikian, performa impresif rival-rival di papan atas membuat Persija akhirnya kembali gigit jari. Delapan tahun tanpa gelar kini menjadi tekanan besar bagi klub ibu kota tersebut.







.jpeg)
































