jpnn.com - BANGKALAN - Pengasuh Pondok Pesantren Sembilangan Bangkalan KH Muhammad Shofwan Taj atau Lora Shofwan menyoroti beredarnya susunan kepanitiaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.
Menurutnya ada yang tidak beres dengan struktur awal tersebut.
"Nahdiyin ikut mencermati persiapan Muktamar ke-35 NU, sekaligus Konbes dan Munas Alim Ulama. Respons awal justru dipenuhi kecurigaan. Bukan sekadar anomali biasa, melainkan sinyal kuat adanya pergeseran arah sekaligus potensi gejolak," ujarnya, Jumat (3/4).
"Mulai tampak kecurigaan. Ketua SC adalah Katib Aam (KH Said Asrori), sedangkan Sekretaris SC adalah Rais PBNU (Prof. M. Nuh). Pertanyaannya, mengapa bukan Wakil Rais Aam? Demikian pula pada OC, ketua dijabat oleh Sekretaris Jenderal (Gus Ipul), sementara posisi sekretaris justru dipegang oleh Wakil Ketua Umum, H. Amin Said Husni."
"Komposisi kepanitiaan inti ini tampak tidak mengikuti standar lazim, dan penempatan figur berdasarkan jabatannya pun terasa janggal serta tidak proporsional," imbuhnya.
Pengelola Pustaka Maktabah Fiha Qutubun Qoyyimah itu menilai penyelenggara tidak semata-mata soal kerja teknis administratif, tetapi menyangkut tradisi keilmuan (kualifikasi), adab (ta’dhim, etika, dan moralitas), serta keseimbangan yang selama ini dijaga dengan penuh kehati-hatian.
"Ini bukan lagi soal boleh atau tidak, halal atau haram, melainkan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dan arah apa yang ingin dicapai dari komposisi panitia yang terkesan anomali tersebut. Kualifikasi dan etika yang berakar pada muruah pesantren kini dipertaruhkan dalam forum tertinggi jam’iyyah yang justru berbasis pesantren itu sendiri," ujar Lora Shofwan.
Dia menjelaskan, empat figur dalam panitia inti tersebut sebelumnya pernah berhadap-hadapan sebagai rival dalam konflik PBNU.









































