jatim.jpnn.com, SURABAYA - Upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya tidak hanya mengandalkan tracing dan screening konvensional, tetapi juga mulai mengadopsi inovasi teknologi pemeriksaan terbaru yang dinilai lebih praktis dan cepat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya dr. Billy Daniel Messakh, mengungkapkan salah satu pengembangan terbaru dalam kegiatan skrining TBC adalah penggunaan alat deteksi yang tidak lagi bergantung pada sampel dahak.
“Kalau selama ini kami harus pakai dahak, yang sering jadi kendala adalah pasien sulit mengeluarkannya. Sekarang ada alat yang bisa membantu, cukup menggunakan saliva atau air liur untuk mendeteksi TBC,” kata dr Billy, Rabu (10/6).
Metode ini diuji dalam kegiatan tracing dan screening yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dokter spesialis paru, serta residen paru. Dalam kegiatan tersebut, sekitar enam tenaga medis turut diterjunkan.
Tidak hanya dari dalam negeri, pengembangan metode pemeriksaan ini juga mendapat dukungan dari tim ahli internasional.
“Kegiatan ini juga didukung oleh tim ahli dari Cina dan Korea,” ujarnya.
Menurut dr Billy, kehadiran teknologi baru ini diharapkan dapat mempercepat proses deteksi kasus TBC di masyarakat, terutama pada kelompok yang sulit menjalani pemeriksaan konvensional.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga memastikan bahwa begitu pasien terdeteksi positif TBC, penanganan langsung dilakukan melalui fasilitas kesehatan yang tersedia di puskesmas. Obat dan paket terapi telah disiapkan untuk segera diberikan kepada pasien.




































