jpnn.com - SEMARANG — Nilai Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada 2025 mencapai 86,72 atau mengalami peningakatan 0,88 dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian itu menempatkan Jawa Tengah berada pada peringkat ketiga secara nasional.
Hal tersebut mengemuka di acara Kick Off Evaluasi Nasional Capaian Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2025 dalam rangka Penguatan Demokrasi dan Peningkatan Strategi Pembangunan Nasional di Horison Ultima Sentraland, Simpang Lima Semarang, Kamis (21/5).
“Alhamdulillah, Jawa Tengah naik satu tingkat. Tahun lalu peringkat empat, sekarang menjadi peringkat tiga," kata Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi di sela menghadiri acara tersebut.
Menurut dia, kenaikan peringkat itu bukan semata hasil kerja pemerintah, melainkan buah keterlibatan masyarakat dalam menjaga ruang demokrasi tetap hidup.
"Ini tidak mungkin dikerjakan pemerintah sendiri, karena indikator demokrasi itu luas, mulai politik, ekonomi, hingga kebebasan masyarakat untuk berbicara,” ungkapnya.
Menurut Taj Yasin, salah satu indikator yang ikut mendongkrak capaian Jawa Tengah adalah keterbukaan kanal pelayanan publik dan ruang pengaduan masyarakat yang kian mudah diakses, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Dia menilai kritik, saran, dan laporan masyarakat justru menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas demokrasi. Taj Yasin menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan partisipasi warga untuk membaca persoalan riil di lapangan.
“Masukan dari masyarakat itu membantu kami. Informasi tentang berbagai kejadian di Jawa Tengah juga membantu pemerintah mengambil langkah yang tepat. Demokrasi tidak bisa dibangun sendirian,” ujarnya.
Namun demikian, di balik capaian itu Taj Yasin mengakui masih ada pekerjaan rumah besar, terutama pada sektor ekonomi. Oleh karena itu, dia meminta dunia usaha ikut mengambil peran dalam memperkuat kualitas demokrasi melalui pembangunan ekonomi yang lebih inklusif.







.jpeg)
































