jpnn.com - Ratusan perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung, berencana melakukan aksi mogok operasional dalam beberapa hari ke depan.
Langkah ini diambil setelah nilai Rupiah terhadap dolar AS yang sudah lebih Rp 18.000 per Minggu (7/6/2026).
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar ini tentunya sangat berpengaruh pada industri tahu tempe, karena mayoritas perajin menggunakan kedelai impor dari Amerika, Kanada, dan Brasil.
"Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa itu Rp 9.000 an per kilogram, sekarang sudah sampai ada yang Rp 11.000 per kilogram," kata Ketua Paguyuban Perajin Tahu Tempe Jawa Barat, M Zamaludin, saat dikonfirmasi.
Dia mengungkapkan, perajin tahu tempe di Kota Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat sudah mengeluhkan dan was-was terhadap dampak melemahnya Rupiah terhadap dolar.
"Kami perajin khawatir, khawatirnya ya kedelai terus naik, terus diikuti juga dengan bahan-bahan yang lain bisa jadi naik juga. Jadi, kalau dolar naik, otomatislah (terdampak) karena kami pakai impor, bukan pakai lokal," ucap dia.
Menurutnya, para perajin tahu tempe di Cibuntu sangat ketergantungan dengan kedelai impor karena minimnya ketersediaan produk dalam negeri.
"Kalau harga kedelainya naik terus, mungkin kejadian 2023 akan terulang lagi. Kami akan demo, kami ya ingin menaikkan harga ya susah kan kalau menaikkan harga untuk tahu dan tempe, makanya ya solusinya salah satunya ya demo mogok," tuturnya.







































