jpnn.com, JAKARTA - Grup musik, Float terus merajut harmoni kehidupan melalui musik selama lebih dari dua dekade.
Band yang kini beranggotakan Hotma 'Meng' Roni Simamora (vokal/gitar), Timur Segara (drum), David Qlintang (gitar) dan Binsar Tobing (bass) itu hadir lagi menyapa pendengar.
Setelah perilisan Emily dan Dimabuk Cahaya, Float kini bersiap meluncurkan single ketiga yang bertajuk The Mirror Song (Constant Changes). Lagu baru itu bukan sekadar karya musik biasa, melainkan sebuah catatan emosional yang merayakan proses pendewasaan dan penerimaan diri.
Secara musikalitas, The Mirror Song (Constant Changes) merupakan sebuah anomali yang menyegarkan dari diskografi Float. Lagu itu hadir dengan tempo yang sangat upbeat, memberikan energi yang fun dan penuh semangat. Timur (drum) menyebutnya sebagai sebuah penjelajahan baru.
"Temponya ini kayaknya tempo paling cepat dari semua lagunya Float. Ini temannya Stupido Ritmo kalau dari bassline-nya Binsar. Sangat fun, dan saya enggak sabar buat bawain secara live," ungkap Timur Float.
Di balik nada cerianya, The Mirror Song (Constant Changes) membawa DNA lirik puitis khas Float.
Bait pembuka menjadi refleksi bahwa manusia kerap kali tidak menyadari evolusi di dalam dirinya sendiri.
"Liriknya bercerita tentang perubahan di dalam diri kita yang prosesnya makan waktu sangat lama, sehingga kita bahkan enggak pernah merasa proses itu terjadi. Semua pelajaran dari keseharian menyiapkan kita, sampai suatu saat kita dihadapkan pada masalah yang kita pikir enggak bisa kita hadapi, ternyata bisa," jelas Meng Float.
Tema tentang menerima perubahan (acceptance) dan terus melangkah ini terasa sangat mendalam bagi David Qlintang (Gitaris).







































