jpnn.com - BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring bagi sekolah akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Langkah darurat itu tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang dikeluarkan Minggu (6/9), sebagai bentuk kesiapsiagaan dan perlindungan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di kawasan terdampak paparan material vulkanik.
"PJJ diberlakukan dengan tujuan melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan," kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Bandung, Senin (7/9).
Dedi menginstruksikan para kepala sekolah segera menghentikan kegiatan tatap muka dan seluruh aktivitas luar ruangan jika kualitas udara memburuk.
Kesiapsiagaan terhadap dampak sebaran abu vulkanik dilakukan pemprov dengan menyiapkan posko dan lokasi pengungsian.
Pemprov Jabar juga mengaktifkan kesiapsiagaan Puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
"Saya instruksikan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker/respirator, dan alat pelindung diri (APD) di fasilitas kesehatan," katanya.
Pemprov Jabar juga menginstruksikan Dinas Kesehatan melakukan surveilans harian terhadap kasus gangguan pernapasan, iritasi mata, penyakit kulit, cedera dan dampak kesehatan lainnya, serta melaporkan melalui mekanisme yang berlaku.

















































