jpnn.com, JAKARTA - Sanggraloka Ubud memilih jalan berbeda, untuk memperlambat waktu di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali yang makin padat.
Bukan dengan menambah atraksi, melainkan dengan menciptakan ruang bagi tamu untuk kembali merasakan ketenangan yang kian langka.
General Manager Sanggraloka Ubud I Komang Kariyana mengatakan kemewahan hari ini bukan tentang seberapa banyak yang bisa dinikmati, tetapi seberapa dalam seseorang bisa benar-benar hadir.
“Bagi kami, hospitality bukan sekadar layanan atau fasilitas, tetapi sebuah support system bagi setiap tamu," ungkap Kariyana dikutip, Senin (2/2).
Oleh karena itu, Kariyana menuturkan setiap elemen di Sanggraloka Ubud, dari desain ruang, alur pergerakan, lanskap, suara alam, hingga cara staf berinteraksi, kami rancang untuk menenangkan dan mengembalikan kejernihan batin.
"Kami ingin tamu tidak hanya merasa nyaman, tetapi benar-benar ‘di-reset’ secara emosional sebelum kembali ke dunia mereka,” ujar Kariyana.
Menurutku dia, pendekatan ini sejalan dengan perubahan cara orang bepergian. Sebab, makin banyak wisatawan global kini mencari ketenangan, kedekatan dengan alam, dan pengalaman yang terasa autentik, bukan sekadar liburan singkat yang penuh aktivitas.
Di Sanggraloka Ubud, filosofi ini diterjemahkan lewat arsitektur. Bukan sebagai latar visual, melainkan sebagai bagian dari proses pemulihan.













































