jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat strategi pengelolaan sampah dari hulu. Melalui program emberisasi, Pemkot Yogyakarta kini berhasil menghimpun sedikitnya 1.100 ember atau setara dengan 27,5 ton sampah organik basah setiap harinya untuk didistribusikan kepada para peternak.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Supriyanto mengatakan bahwa sampah organik yang terkumpul tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan menjadi sumber pakan yang bermanfaat.
"Kami melibatkan 12 mitra offtaker mandiri, mulai dari peternak ayam, bebek, ikan, babi, hingga pembudidaya maggot," ujar Supriyanto, Senin (26/1).
Sistem pengelolaan sampah di Kota Gudeg kini terbagi menjadi dua jalur utama untuk memastikan efisiensi pemrosesan, yaitu sampah organik basah dan kering.
Masyarakat diminta mengumpulkan sisa makanan dalam galon bekas yang kemudian diambil oleh penggerobak di 45 kelurahan menggunakan ember khusus.
Sedangkan untuk sampah organik kering, seperti daun, sapuan jalan, dan hasil tebangan pohon akan dijemput oleh petugas DLH menggunakan tiga armada truk yang mampu membawa 7,5 ton sampah kering per hari dari 45 titik penjemputan.
Target Pengurangan 60 Persen Sampah
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa sampah organik mendominasi sekitar 60 persen dari total timbulan sampah kota.
Dengan fokus pada pemilahan di tingkat rumah tangga, beban pengolahan sampah residu diharapkan berkurang drastis.







































