jpnn.com, PALEMBANG - Pangan adalah fondasi kehidupan sekaligus instrumen strategis pembangunan.
Pangan bersentuhan langsung dengan daya beli masyarakat, tingkat kemiskinan, derajat kesehatan, laju inflasi, produktivitas tenaga kerja, stabilitas sosial, dan ketahanan ekonomi daerah.
Karena itu, mempersempit kemandirian pangan sekadar sebagai urusan meningkatkan produksi pertanian adalah kekeliruan cara pandang.
Persoalannya jauh lebih fundamental: bagaimana membangun masyarakat yang memiliki kesadaran, kapasitas, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, sekaligus menjadikan pangan sebagai sumber produktivitas dan kesejahteraan.
Dalam kerangka pembangunan Sumatera Selatan, penguatan ketahanan dan kemandirian pangan menjadi bagian penting dari arah kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur melalui 12 program cepat HDCU (Herman Deru–Cik Ujang).
Di dalamnya, Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP) diposisikan sebagai program prioritas yang secara khusus diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kemandirian ekonomi dari tingkat rumah tangga dan komunitas.
Dari Konsumen Menjadi Produsen: Sebuah Transformasi Sosial
Inti dari GSMP adalah pergeseran cara pandang masyarakat terhadap pangan.
Masyarakat yang semula memandang pangan semata sebagai sesuatu yang dibeli dan dikonsumsi didorong untuk melihatnya sebagai sesuatu yang dapat diproduksi, dikelola, dikembangkan, bahkan dijadikan sumber pendapatan.

















































