jpnn.com, JAKARTA - Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto menyebut keputusan Indonesia merapat ke blok ekonomi BRICS yang diisi Rusia dan China, rupanya menghadirkan dinamika di tingkat global.
Utut menuturkan anggota legislator dan senator di dunia bertanya langsung ke anggota DPR RI fraksi PDIP itu keputusan Indonesia merapat ke BRICS.
Hal demikian dikatakannya saat seminar berjudul Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Sabtu (18/4).
"Kami kedatangan lima perwakilan parlemen negara besar. Pertama dari Riksdag Swedia, kemudian House of Representatives dan dua senator dari Amerika Serikat, dari parlemen Jerman (Bundestag), dan terakhir dari Tweede Kamer Belanda. Pertanyaannya sama, kenapa kita ke BRICS," kata dia.
Utut mengatakan langkah Indonesia merapat ke Rusia dan China biasanya memang direspons negatif Amerika Serikat (AS) dalam kacamata geopolitik.
"Biasanya, kalau kita sudah condong ke satu kutub, dalam hal ini Rusia dan China, kita tidak akan diterima oleh Amerika Serikat," ungkapnya.
Guna menjaga keseimbangan diplomasi dan prinsip politik luar negeri bebas aktif, Utut mengaku telah menyarankan kepada Menlu Sugiono membentuk unit kerja khusus.
"Saya sampaikan sebaiknya ada desk khusus di Kemlu untuk memastikan kita tidak seolah-olah menjadi satelit atau proksi mereka," ungkapnya.








































