jpnn.com, JAKARTA - Utusan Khusus PBB Retno Marsudi mendesak percepatan program air bersih SDGs untuk mengatasi dampak buruk perubahan iklim.
“Perubahan iklim adalah pengganda ancaman yang dapat memperburuk semua tantangan yang dihadapi dalam isu air,” kata Retno dalam Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu.
Retno pun menegaskan bahwa air bukan hanya masalah teknis dan sektoral yang perlu ditangani, tetapi air juga merupakan masalah politik sekaligus masalah pembangunan yang menyeluruh.
Dia menyebutkan bahwa isu air dapat ditangani dengan akselerasi, yaitu percepatan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor enam, air bersih dan sanitasi layak.
Menurutnya, untuk mencapai SDGs pada 2030, Indonesia membutuhkan peningkatan delapan kali lipat dari tingkat kemajuan saat ini untuk pengelolaan air minum yang aman, peningkatan enam kali lipat untuk sanitasi yang aman, serta dua kali lipat untuk layanan kebersihan dasar.
“Jika kita tidak lakukan ini, maka target-target SDG nomor enam baru akan tercapai pada 2049,” ujar Retno.
Yang kedua, Indonesia perlu melakukan kerja sama dalam menangani isu air, kata Retno, serta menyatakan bahwa kolaborasi untuk mencapai SDGs harus melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan.
Retno mengatakan bahwa sektor swasta memiliki peran penting dalam memperluas akses layanan air bagi masyarakat, dan menambahkan bahwa saat ini sekitar 86 persen pembiayaan sektor air dan sanitasi masih berasal dari anggaran publik.











































